August 30, 2015

Iseng ikut Kang Nong Tangsel 2015

Berawal dari Sarah yang iseng pengen ikutan Kang Nong Kota Tangerang. Kata Sarah, denger-denger hadiahnya 25juta. Dia pun bersemangat. Sampai akhirnya tiba di hari terakhir pengembalian formulir. Dia minta aku buat nemenin ke tempat pengembalian formulir di Balekota Mall. Jauh-jauh datang, eh ternyata salah lokasi. Seharusnya di Gedung Cisadane. Entah itu ada dimana. Udah mah nyampe sana jam 4 sore, jauh, naik angkot pulak. Akhirnya Sarah batal ikut Kang Nong Kota Tangerang.

Semangatnya tidak sedikit pun luntur. "Masih ada Kang Nong Tangsel. Aku ikut itu aja ah." Katanya sambil nyengir. Disitu lah aku berpikir untuk ikutan nyoba juga. Awalnya Sarah ngelarang, katanya aku jadi penghambat karirnya. Haha. Ya aku juga ga begitu minat. Sampe menjelang hari H, Sarah ngajakin aku ikutan supaya dia ada temennya. 

Tibalah hari H. Aku dan Sarah pakai pakaian sesuai dengan ketentuan di twitter / instagram Kang Nong Tangsel. Katanya: jangan pakai kerudung hijabers dan bermotif, pakai make-up jangan tebel. Da kita mah anak baik-baik jadi nurut aja. Begitu kita tiba di tempat seleksi... ternyata emang aku dan Sarah yang paling nurut. Banyak cewe-cewe badai halilintar. Cantik nan gaul. Pakai pakaian tidak sesusai ketentuan yang ada dan bermake-up tebal.

Sempat pengen ngebatalin daftar ulang. Tapi dipaksa sama Sarah. Apa boleh buat, udah terlanjur dateng juga. Akhirnya aku dan Sarah menghampiri stand tempat daftar ulang.
Mas penjaga: Kalian temen satu sekolah ya?
Aku: (Nyengir lebar. Yes, dikira anak sekolah) Hahaha. Ga kok, kita adek kakak.
Kemudian kami dapat nomor selisih 2 angka. Sarah 170, aku 172. Kemudian kami ke stand tempat pengumpulan berkas-berkas. Setelah itu loading test, yaitu tes tinggi dan berat badan. Sebenernya aku kurang suka sama cara mereka loading test yang ngasal gitu. Blazer  kan lumayan berat, dan kita ga disuruh lepas blazer. Hasilnya berat aku 50 kg, padahal pas banget sebelom berangkat aku timbang di rumah 48,8 kg. Tapi alhamdulillah tinggi aku 162 cm. Tadinya aku ketakutan kurang dari 160 cm, karena batas tinggi minimal untuk perempuan 160 cm. Beres loading test, tinggal nunggu acara dimulai.

Ternyata sistem seleksinya itu maju perkloter. Setiap kloter terdiri dari 10 orang. Nomor ganjil untuk laki-laki dan genap untuk perempuan. Tiap satu kloter naik ke panggung. Awalnya dikasih pertanyaan dari MC. Kemudian tiap peserta wajib perkenalan dengan format: nama, umur, sekolah / universitas / nama perusahaan jika kerja. Setelah perkenalan, menjawab pertanyaan tersebut. Diberikan waktu maximal 1 menit. Tidak boleh singkat, juga tidak boleh lewat dari 1 menit.

Waktu kloter pertama maju, aku memperhatikan mereka dengan seksama. Ga ada sedikit pun berpaling. Daaan ternyata ga ada yang umurnya mendekati umur aku. Kebanyakan peserta anak SMA kelas 2-3 dan kuliah semester awal. Duh gawat. Masa aku yang paling tua dan paling bego. Terus mendadak mules. Kemudian kloter selanjutnya maju. Semakin lama soal pun semakin susah. Emang bener-bener soal yang paling masuk akal dijawab cuma kloter 1: Apakah yang anda lakukan jika terpilih menjadi Kang Nong Tangsel 2015? Sisanya itu pertanyaan-pertanyaan susahnya luar biasa. Padahal aku dan Sarah sempet baca-baca Wikipedia tentang Tangsel. Dan yang keluar dari situ cuma dikit. Semua soal itu pasti soal yang menanyakan pendapat. Ga ada soal semacam Cerdas Cermat yang ditanya siapa walikota Tangsel, berapa luas Tangsel, dll. GA ADA.

Karena nomor urut aku dan Sarah angkanya gede banget, otomatis kita nunggu giliran lama. Dari deg-degan sampe lemes gara-gara kepanasan. Tau BSD Square kan? Demi apapun itu tempat ga efektif buat ngadain acara seperti ini di siang hari. Fuanaz luar biaza. Akhirnya ayah, yang sedari tadi nunggu, ngajak ngadem di Jco. Sampe jam istirahat pun masih kloter yang angkanya dibawah 100. Ayah pulang duluan karena mau sholat di masjid. Akhirnya dua-kakak-beradek-dongo-dengan-wajah-pas-pasan belajar di Jco.

Awalnya aku semangat googling tentang tangsel. Tapi ternyata nunggu gilirannya lama buanget sampe akhirnya aku kepanasan (karena duduk di Jco kursi luar) kemudian ketiduran. Kalian tau kan apa yang terjadi pada manusia jika tidur? Butuh loading ketika terbangun dan semacam ter-reset otaknya. NAH, itu dia fatalnya. Aku bangun terus loading lama. Udah lupa lagi apa yang udah aku pelajarin. Sampe akhirnya nomor urut deket aku dipanggil. Aku udah ga bisa mikir apa-apa. Panas banget bikin aku sensi. Akhirnya aku sholat biar adem kena aer wudhu. Pas banget balik lagi langsung disuruh siap-siap untuk maju ke panggung. Dan ternyata peserta cowo udah habis, sianya kloter cewe-cewe. Ye elah, pasangan aku adek sendiri. Untungnya nomer peserta dia lebih dulu dari aku, jadi aku bisa copy dikit jawabannya, haha.

Before After setelah tidur

Maju lah kloter aku ke panggung. Aku udah ngerasa itu cara jalan teranggun dalam seumur hidup. Entah lah apa yang dilihat orang-orang. Mungkin lebih mirip zombie lagi sakit kaki. Waktu di atas panggung senyum aku masih santai tuh. Sampai akhirnya pertanyaan laknat itu terlontar dari mulut MC:
"Bagaimana menurut anda tentang sapta pesona? Dan sebutkan penerapannya dalam objek wisata!"
Mampus.

Tadi dia bilang apa?

Satwa pesona?

Emang Tangsel punya kebun binatang?

Anjir aing kudu kumaha?

Pertanyaan bertubi-tubi muncul diotak aku. Aku meresakan raut wajah berubah jadi panik dan mengernyitkan dahi. Ga boleh, aku harus senyum selama diatas panggung. Tapi aku juga harus mikirin nanti mau jawab apa. Perang batin. Akhirnya yang terjadi muka aku gonta ganti dari mikir - senyum - mikir - senyum. Ternyata mensinkronisasi antara berpikir dan tersenyum itu susah. Akhirnya aku memutuskan untuk merangkum jawaban peserta-peserta lain.

Tidak satu pun memberikan jawaban yang memuaskan. Dari jawabannya terdengar kalau mereka semua tidak ada yang mengerti apa itu sapta pesona. Inti dari jawaban mereka sama: Sapta pesona itu penting. Terus aku kudu piyeee...

Sampai akhirnya tiba giliran Sarah. Nada bicaranya ketika perkenalan bagus. Tapi ketika ngasih jawaban, dia terlalu sibuk memikirkan jawaban yang memuaskan sehingga lupa kalau penilaian utama itu dari skill berkomunikasi hingga cara bicaranya yang nyeret-nyeret itu kebawa.

Tiba lah giliran aku. Aku perkenalan menggunakan bahasa Jepang. Supaya hanya orang yang bisa berbahasa Jepang aja yang tau umur aku berapa, hahaha. Setelah perkenalan, aku jawab pakai bahasa Indonesia.
"Baik, saya akan menjawab dalam bahasa Indonesia. Menurut saya, sapta pesona sangatlah penting. Mengapa? Karena dengan sapta pesona akan menarik banyak parawisatawan ke tempat wisata dan membuat tempat wisata tersebut lebih terkenal dari tempat wisata di kota lain...."
Dalam hati: Anjir gue ngomong apa sih. Ngaco banget. Udah lah dari pada ngalor ngidul. Udahan aja. Kamera mana, kamera? Saya sudah ga sanggup.. *berharap bisa lambaikan tangan ke kamera
"Oke sekian. Terimakasih. Hihihihi."
Lah aku kelepasan cekikikan di panggung padahal mic belom jauh dari mulut aku. Abisnya aku bego banget, aku geli sama diri aku sendiri. Aku ga bisa nahan cengengesan gara-gara meratapi kebodohan aku. Sampai akhirnya aku melihat salah satu panitia memberikan kode ke peserta di panggung. Aku ga bisa melihat jelas gerakan mulutnya. Aku kira dia sedang kasih kode kalau udah time out. Setelah sekian detik, aku baru sadar kalau peserta yang sedang megang mic tidak memberikan jawaban apa-apa, benar-benar diam. Dan ternyata panitia itu mengucapkan "semangat" dengan gerakan mulut. Aku menoleh, kelihatannya cewe SMA, mukanya masih imut. Aku yakin kalau aku masih semuda dia ikut acara ini akan terjadi hal yang lebih parah, Semangat dek. Kamu udah bisa berdiri anggun di panggung aja udah luar biasa. Akhirnya waktu habis dan lanjut ke peserta selanjutnya. Setelah semua peserta di kloter aku menjawab, kami semua turun dari panggung.

Dan ternyata aku kloter kedua terakhir. Setelah itu nunggu lama untuk pengumuman. Aku ga berharap banyak. Ga nyampe gemeteran di panggung aja udah syukur alhamdulillah. Dan akhirnya semifinalis diumumkan. Tadinya aku yakin seyakin-yakinnya kalau dari kloter aku tidak ada yang terpilih 30 besar karena tidak ada yang jawab dengan benar atau minimal kasih jawaban yang memuaskan. Dan ternyata, dari kloter aku ada 4 orang yang masuk semifinalis. Dari situ aku baru sadar, ternyata penilaiannya tidak dinilai dari benar atau tidak dalam menjawab, tapi lebih kepada bagaimana cara menjawab dengan anggun dan tegas tidak peduli jawabannya memuaskan atau tidak. Dan yang mutlak adalah yang cantik. Itu pasti keterima. Karena aku ga lihat ada cewe cantik yang ga menang.

Jadi, pembelajaran buat kamu yang mau ikut Kang Nong Tangsel tahun berikutnya:

  1. Latih cara bicara kamu. Ketika menjawab pertanyaan, yang terpenting tetap anggun dan rileks. Ga usah ngomong panjang lebar biar penjabarannya banyak. Jawaban berbobot tapi penyampaiannya jelek masih kalah sama yang jawab asal tapi anggun.
  2. Baca tentang Tangsel jauh-jauh hari. Jangan dihafalkan aja, coba pikirkan juga bagaimana pendapat kamu.
  3. Make-up yang bagus. Jangan no make-up, jomplang banget ntar sama peserta yang lain jadi terlihat invisible. Kecuali kamu cantik banget, polos juga ga masalah.
  4. Baju yang bagus, kerudung ala hijabers.
Semoga bermanfaat dan semoga beruntung!

1 comment:

  1. Mantab sekali.Bapak / ibu yang sedang mencari guru Les Privat di Pamulang dan Les Privat di Pondok Aren SD, SMP, SMA hubungi kami. trmksh

    ReplyDelete