September 3, 2013

Summer Course di Waseda (part 3)

Dari Share House Tama ke Waseda, kami munggunakan Tram melalui Toden Arakawa Line. Tram itu sejenis kendaraan mirip Bis tetapi ada jalur khusus seperti kereta.

Peta Tram


Pertama kalinya kuliah di Listening and Speaking through Thinking 2A, aku deg-degan. Aku takut salah ambil kelas. Karena biaya kuliah di sana tidak lah kecil menurut aku. Hampir setengah murid kelas merupakan orang Indonesia. Bisa dibilang agak kurang efektif juga. Ngobrol pakai bahasa indonesia, ketawain orang, gosip. Cowo di kelas ada 2 orang, dikit. Jadi bahasa yang dipakai di kelas dan diajarkan dosen cenderung menggunaka bahasa perempuan. Kasian.

Aku kecewa dengan mata kuliah pertama. Aku salah ambil kelas. Materi ini di kampus termasuk kuliah semester awal. Rasanya gak karuan. Sedih, kesel, nyesel, bercampur. Tapi menyesal percuma, jadi aku berusaha membuat diri aku senyaman mungkin di kelas.

Mata kuliah ke-2, Intensive Japanese 3B. Berbeda dengan mata kuliah pertama, sekelas yang dari Indonesia hanya aku dan Nella. Pada mulanya aku merasa murid kelas ini lebih kaku dibanding mata kuliah pertama. Tapi setelah dipikir-pikir, sebenarnya yang membuat cair suasana di kelas 2B ya orang-orang Indonesia juga. Sedangkan di kelas 3B ini aku dan Nella bukan tipe orang yang nyerocos dan ngelawak. Jadi lah kelasnya agak krik krik :|

Setelah beberapa hari kemudian akhirnya aku bisa hafal semua murid kelas baik kelas Listening and Speaking through Thinking 2A maupun Intensive Japanese 3B. Untuk kelas  Listening and Speaking through Thinking 2A ada 15 orang, dan 7 orangnya merupakan orang Indonesia. Berhubung aku mau bahas teman orang asing jadi maaf banget buat Nella, Uul, Renny, Anne, Mano, Susan.

Chin, China
Aku ga tau nama aslinya siapa, itu nama panggilan dia di kelas. Keliatannya kayak cowo biasa, tapi aslinya luar biasa......bingungin orang. Tidak rupawan, tapi menarik perhatian. Bukan, bukan menarik perhatian seperti ke lawan jenis, tapi gerak geriknya itu lucu. Aku suka ketawa ngeliat dia berbicara. Ngomong cepet banget dengan logat China-nya yang kental dan agak-agak berdesis. Dan setiap kali dia berbicara gerak-geriknya aneh, ga kayak orang normal. Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bukan maksud mau ngatain, tapi justru itu uniknya Chin. Kadang aku pura-pura ngerti kalau mengobrol dengan dia. Pernah aku duduk diantara Chin dan temen Indonesia. Kita ketawa ngakak karena abis ngomongin orang dalam bahasa Indonesia, dan tiba-tiba Chin ikut ketawa, dan kejadian itu ga cuma sekali.

Ryan, Amerika
Pertama kali liat Ryan, yang kepikiran di kepala aku One Direction. Aku juga bingung kenapa bisa begitu. Selain Nella, dia juga sekelas sama aku di kelas Intensive Japanese 3B. Lebih muda dari aku sepertinya, soalnya 1 tingkat kuliah di bawah aku. Ya kalau dibandingin Chin dia lumayan cakep lah. Tapi hmmm. Kalau udah deket sama dia orangnya asik. Tapi sayang keterbatasan bahasa aku dalam bahasa Inggris dan dia dalam bahasa Jepang, jadi kita lebih sering ngobrol ngegantung karena kendala bahasa itu. Orangnya lumayan kocak juga. Tipe orang yang santai dan sama sekali ga mau ribet. Kalau ditanya dosen pasti jawabnya "wakarimasen (tidak tahu)". Karena nama dia dalan bahasa jepang jadi Raiyan, sedangkan Lion dalam bahasa jepang jadi Raion, akhirnya dia pun dipanggil Raion di kelas Intensive Japanese 3B. Dia pun bertingkah seolah manusia kucing, kadang diakhir kalimat dia bilang "nya~".

Amy, Taiwan
Amy, stylenya selalu casual dan aku suka. Orangnya asik, baik banget dan kayaknya dari keluarga kaya. Suatu hari, dia kasih makanan sekelas oleh-oleh dari Nikko setelah dia weekend di sana. Menghabiskan weekend di Nikko ga dikit, dan dia beli oleh-oleh pula buat sekelas. Aku aja kalau jala-jalan buat makan sendiri aja mikir banyak, apalagi kasih oleh-oleh sekelas. Sungguh mengharukan. Bukan hanya itu, dia merupakan peserta program 3 minggu dan ingin diperpanjang jadi 6 minggu. Dan asal kalian tau, butuh biaya lagi untuk itu dan dia dengan mudah dapet izin dari orang tua, sayangnya dari pihak waseda yang tidak bisa memperpanjang dia.

Jessica, Taiwan
Aku suka gaya rambut Jessica. Dia imut dan orangnya asik juga lucu. Tempat dia menginap satu arah sama asrama aku jadi sering ketemu di Tram. Aku suruh dia bilang huruf R dan dia sambil ketawa bilang kesulitan menyebut huruf R. Dia meminta beberapa kosa kata dalam Indonesia dan mencoba menghafalnya. Pernah suatu hari salah satu HP dari temen Indonesia bunyi alarmnya, tapi bunyi alarm tersebut merupakan ngaji-ngajian. Jessica malah joged ala India-Arab mendengar itu. Dia juga mengajarkan aku beberapa kosa kata bahasa taiwan. Aku disuruh bilang "kamu ganteng" dalam bahasa taiwan dengan gaya yang sexy, kalau ga sexy salah katanya. Kemudia dia video-in aku yang berbicara dengan sexy-nya, haha.

Karen, Kanada
Lebih muda dari aku dan gayanya dewasa. Karen itu orangnya anggun, lembut, dan ramah. Dia kadang mengajak aku ikut acara, tapi sayangnya aku selalu ada kendala jadi ga bisa ikut ajakan dia. Aku kalau berbicara sama dia serasa berbicara sama senior banget, bukan karena fisiknya, mungkin karena cara dia berbicara itu berwibawa tapi anggun.

Yoshika, Australi (kiri)
*Lupa foto berdua sama Yoshika :(
Aku juga stylenya Yoshika, unik. Spertinya dia merupakan murid paling muda di kelas. Dia belum kuliah dan baru lulus SMA. Dia juga tipe orang yang asik, cuma ya seperti biasa, kendala bahasa. Aku jadi ga begitu banyak berinteraksi sama dia.

Cindy, Taiwan
Cindy itu orangnya imut. Sibuk ngobrol sama geng China jadi kurang baur sama orang yang selain ras China. Dia kalau setiap bicara di kelas diakhiri dengan ketawa khas dia "hehe".

He Yingshu, Singapur
Aku ga pernah berinteraksi sama dia kecuali pas minta foto ini. Bahkan aku baru tau dia berasal dari Singapur setelah add FB dia. Dia lebih parah dari Cindy, selalu ngobrol sama orang ras China doang.

No comments:

Post a Comment