July 26, 2013

Summer Course di Waseda (part 2)

Setelah selesai menerangkan biaya penginapan, Nana-san menjelaskan peraturan Share House. Peraturan standar sih, tapi yang ga enak ga boleh bawa tamu ke dalam rumah, padahal udah niat mau ajak temen-temen buat mampir ke Share House. Kondisi tempatnya jauuuuuh dari perkiraan dan agak ga sesuai dengan foto yang ada di web Share House Tama. Sesuai sih, maksudnya adalah di foto itu kondisi sebelum dihuni. Sekarang kondisi Share Housenya penuh barang dan berantakan. Aku mendapatkan kamar yang sempit, kalo dilihat dari web itu foto urutan ke-7 dari bawah. Aku pikir akan dikasih sepaket futon aja. Dan ternyata ada 2 ranjang tingkat di kamar sesempit itu :|
Di belakang Hanin, ranjang bagian atas
tempat aku tidur, bawah temapat koper.

Ranjang atasnya tempat Hanin, bawah Diza
dan dibelakang dia ada gorden ngatung.

Itu lemari pakaiannya,
samping lemari ada ranjang Hanin dan Diza.
Oke, ini sempit banget space buat lesehan.

Wajar lah tempatnya sempit, penginapan termurah yang aku dapat. Ga buruk-buruk amat selama kamar mandi masih bagus.

Keesokkan harinya, kita semua pergi ke Waseda untuk menghadiri Orientasi. Tentunya dengan bertemankan Om Gugel Mep alhamdulillah ga kesasar. Sebenarnya ga begitu exciting waktu orientasi. Badan masih capek, culture shock, jetlag, terus langsung disuruh ke kampus, ada test pula. Gimana mau exciting? Ga begitu fokus waktu dikasih penjelas mengenai prosedur dan bla bla bla. Tapi aku mendapatkan teman baru. Orang asing pertama yang aku ajak kenalan namanya Jamie, perempuan asal Amerika. Kemudian waktu tur kampus dianterin sama orang Jepang namanya Swan, 100% orang Jepang tapi namanya unik. Gaya banget orang tuanya ngasih nama anak sok bule. Terus ada orang jepang lagi tapi lupa namanya. Terus waktu test di ruang komputer, samping kiri aku cowo Mexico namanya Andreas. Testnya ga berjalan dengan lancar. Hasilnya sama sekali ga memuaskan. Kayaknya efek capek dan sangat ga efektif untuk ujian.

Besok harinya badan terasa semakin sakit. Akhirnya kami semua memutuskan untuk istirahat di penginapan. Pada hari minggunya, aku sama Hanin pergi jalan-jalan ke Mall terdekat dari penginapan. Namanya Sunshine City. Di sana kita samperin satu persatu toko. Sampai akhirnya mampir di suatu toko dengan pakaian yang super duper lucu. Harganya sih ga lucu, tapi pelayanannya luar biasa bagus. Mungkin dia satu-satunya orang yang mau tersenyum kepada aku sama Hanin yang berjilbab ini. Karena servis yang begitu bagus, aku yang tadinya ga ada niat belanja akhirnya beli baju. Sekali-sekali lah punya baju mahal, hehe. Kemudian kelar itu kita kapok, antara seneng dan nyesel. Kita muter-muter mall dan akhirnya menemukan spot untuk berfoto.


Ga banyak yang kami lakukan di Sunshine City. Seselesainya foto-foto, kami langsung pulang.

Tanggal 24 Juni perkuliahan dimulai. Tapi pada hari itu saja, bebas memilih kelas mana pun untuk percobaan karena hasil test kemaren tidak menujang seseorang akan mendapat level yang mana, bebas tergantung keputusan masing-masing. Aku memilih memasuki kelas yang sesuai dengan apa yang telah terdaftar. Kuliah pertama yang aku ikuti "Listening and Speaking through Thinking (Short-term) 2" atau bahasa jepangnya 聞く・考える・話す(短期)2. Ternyata kelasnya membludak dan dosennya tidak mau mengajar karena jamnya nanggung. Dosen hanya memberitahu sistematika perkuliahan. Jam ke-2 aku memasuki kelas "Intensive Japanese (Short-term) 2" atau dalam bahasa jepang 総合日本語(短期)2. Di sana aku berkenalan dengan cowo prancis, namanya Sam, mirip mr.Bean. Kemudian ada tugas mengobrol dengan pasangan yang lain. Aku dipasangkan dengan perempuan China. Komunikasi kami tidak berjalan dengan baik, dia bahasa jepang masih level dasar kayaknya. Dan dia ga bisa bahasa Inggris. Aku pun lupa siapa namanya.

Pulangnya semua mahasiswa membeli buku yang akan dipakai untuk perkuliahan karena pada jam 5 sorenya akan ada fiksasi mata kuliah yang mau diambil. Ya bisa dibilang sama dengan PKRS. Aku masih galau mau membeli buku apa karena tadi pada kuliah jam pertama tidak diberi materi kuliah. Aku pun liat isi buku-bukunya. Aku mantapkan diri untuk tetap mengambil mata kuliah jam pertama, tapi jam kedua aku mengambil Intensive Japanese 3 karena kalau dilihat dari bukunya, Intensive Japanese 2 masih terlalu dasar dan yang Intensive Japanese 3 sesuai sama mata kuliah di kampus aku yang nilai akunya mulai jeblok. Aku ga mau uang yang dikasih ayah sia-sia, malah dipakai untuk kuliah yang materinya udah aku kuasai. Aku mau uang yang dikasih ayah bermanfaat, membuat aku menambah ilmu banyak, menaiki level kemampuan berbahasa Jepang.

Sepulang dari kampus, Waseda mengumumkan mahasiswa mendapat kelas apa melalui web. Ketika aku mau mengecek di Samsung Tab, tab aku mati daaaaan lupa bawa charge. Oh nice. Aku merasa saat itu aku dalam posisi bodoh maksimal, keluar negeri itu yang jadi prioritas adalah alat komunikasi, bukan baju. Ya pasti kalian berpikiran, kenapa ga pakai HP ceknya? Oh iya aku lupa bilang, HP aku cuma BB dan Samsung jadul. You know lah BB ga punya kelebihan selain ada BBM, sisanya bapuk. Balik lagi ke pembagian kelas. Aku mendapat kelas Listening and Speaking through Thinking 2A dan Intensive Japanese 3B. Yang aku pikirkan saat itu "semoga kuliahnya menyenangkan dan bermanfaat".

No comments:

Post a Comment