July 23, 2013

Summer Course di Waseda (part 1)

Aku mengikuti kegiatan Summer Course di salah satu universitas di Tokyo yang bernama Waseda. Kampus aku dan Waseda bekerja sama dalam kegiatan ini, pada nantinya Waseda juga akan mengirim beberapa mahasiswa ke kampus aku. Dalam kerja sama ini, Jasso memberikan uang (walau ga sebanding sama pengeluaran, tapi lumayan lah) untuk mahasiswa yang mengikuti Summer Course dan mendapat penginapan gratis, program ini bernama SEND. Dosen berkata, program SEND ini ada 2 pilihan, program 6 minggu dan 3 minggu. Karena program 6 minggu udah full, terpaksa mengambil program 3 minggu.  Ditengah jalan proses pendaftaran, tiba-tiba dosen memberitahu kalau ternyata yang asrama gratis hanyalah buat anak yang 6 minggu. Aku ga habis pikir, kenapa bisa ga adil kayak gitu. Dan aku baru menyadari, ada banyak informasi yang ga aku ketahui setelah aku udah sampai di Jepang. Ketika pembagian beasiswa aku baru tahu, ternyata aku tidak dimasukkan ke dalam program SEND, melainkan program beasiswa biasa. Itu sebabnya aku ga dapet penginapan gratis. Kesal bukan main, tapi karena udah terlanjur dan ternyata ada banyak kelebihan dari tidak mendapatkan penginapan gratis, aku merasa bersyukur.



Aku, Hanin, Nella di bandara Soekarno Hatta.
Kopernya aku minta plastikin soalnya malu pakai koper umroh :D
Ada 15 orang yang mengikuti Summer Course. Program 6 minggu ada 10 orang dan program 3 minggu ada 5 orang. Pada tanggal 20 Juni, mahasiswa yang mengikuti Summer Course ini berangkat dari bandara Soekarno Hatta naik Malaysia Airlines. Transit di Malaysia kemudian terbang lagi dan sampai di bandara Narita pada tanggal 21 Juni.
Bandara di Malaysia

Dapet kursi kepisah sama temen-temen,
tapi dapet samping jendela :)
Di pesawat aku lepas sepatu sebelah doang karena kaki kanan aku sakit. Sesampainya aku di bandara Narita, aku kaget sepatu aku ga muat. Ternyata kalau lagi naik pesawat jangan pernah lepas sepatu karena akan menciut. Sepatu kanan aku kembali ke ukuran normal setelah 4-5 hari dipakai :|
Sepatu jadi kecil sebelah.
Lihat sepatu sebelah kanan, lebih lebar ikat sepatunya.
Waseda menyediakan bis khusus untuk menjemput mahasiswa yang 6 minggu ke asrama yang telah disediakan Waseda di Saitama yang bernama DK House Warabi, tetapi mereka ga mau mengantar mahasiswa yang menginap diluar asrama itu ke penginapan masing-masing. Dosen pernah menawarkan, kalau mau numpang sampai asrama lalu dari sana berangkat ke tempat masing-masing nanti beliau akan menyampaikan ke pihak Waseda. Sebenarnya asrama itu lebih jauh dari pada Narita ke penginapan aku. Berhubung ongkos dari Narita ke penginapan itu mahal sekitar 300.000 rupiah, jadi aku memilih untuk setuju. Di hari terakhir aku bertemu dosen, beliau berkata "Jangan tiba-tiba berubah pikiran, kalian tetap naik bis mereka (waseda) ya". Maka aku turuti.

Begini rutenya. Penginapan aku padahal deket jalan tp ogah mampir supirnya.
A: Bandara Narita | B: Penginapan aku | C: DK House Warabi
Setibanya di Narita, kami bertemu dengan mbak-mbak penjemput di bandara. Aku langsung bilang kalau mahasiswa yang ga di Warabi akan turun saja di stasiun Nishikawa Guchi yang merupakan stasiun terdekat dari penginapan karena aku pikir lebih praktis diturunin di sana. Dan ternyata di daftar list penumpang bis itu yang terdaftar hanyalah mahasiswa yang tinggal di asrama tersebut. Aku kaget. Aku pikir karena dosen sudah berkata demikian maka nama mahasiswa yang di luar Warabi terdaftar. Ternyata memang bis itu khusus untuk mahasiswa yang menginap di Warabi dan mungkin itu adalah bagian dari servis asrama. Mbak penjemput sampai menelpon ke atasannya. Butuh sekitar setengah jam untuk mengambil keputusan. Aku merasa ga enak sama Wasedanya. Seandainya memang ga bisa aku ga paksa sih. Tapi ternyata kami diperbolehkan ikut sampai stasiun Nishikawa Guchi.

Seperti yang aku minta, supir drop kami di stasiun Nishikawa Guchi. Dari sana mulai merasakan tatapan-tatapan aneh dan ga enak dari orang Jepang karena jilbab kami, kebetulan 3 dari 4 orang memakai jilbab. Sambil menunggu kereta, kami foto-foto. Tiba-tiba ada perempuan bermasker menghampiri kami. Sempet ketakutan sih, tapi ternyata dia ingin bantuin foto agar semuanya masuk. Ibu itu ternyata ramah, pernah ke Bali dan bisa sedikit bahasa Indonesia.
KLIK UNTUK PERBESAR GAMBAR!
LIAT EXPRESI KITA WAKTU IBU ITU NYAMPERIN.

Beyom pada mandi, masih kucel-kucel.
Ternyata dari stasiun ke Share House Tama (penginapan aku) alhamdulillah deket banget. Sampai lah ke dalem pengipanannya. Ketemu sama pengurus penginapan, namanya Nana-san. Kita obrolin langsung soal biaya. Dia menjelaskan dari biaya sewa kamar, deposit yang akan dikembalikan full kalau ga ada kerusakan dan biaya fasilitas yang bayar perhari dan perharinya 150 yen.
Sampai situ aku panik. Aku buka BB dan coba kalkulasi biaya fasilitas untuk 28 hari. Diotak aku angka hasilnya itu empat puluh dua ribu. Sedangkan 1 yen kira-kira 100 rupiah. Berarti angka itu kira-kira sekitar 4juta 200ribu rupiah. Sedangkan uang yang dikasih ayah hanya akan cukup buat penginapan yang harganya 5 juta rupiah udah termasuk biaya fasilitas. Ditambah, si diza menyodorkan HP hasil kalkulator dia yang menunjukkan angka total dari semua, yaitu 9juta. Aku lemes luar biasa, aku ngerasa wajah aku langsung pucet. Antara lemes dan pengen nangis. Perasaan kacau balau yang akut. Aku langsung kepikiran akan menggelandang. Hanin langsung kasih usulan kalau minta bantuan kakaknya yang tinggal di Jepang. Nana-san bingung sampai dia bilang "Daijoubu desuka?" yang artinya "Kalian gapapa?". Dia ambil kertas, kemudian dia tulis sambil menjelaskan:

30000 Yen (sewa kamar perorang)
10000 Yen (deposit)
(150 Yen x 28) = 4200 Yen (fasilitas per hari x 28 hari)
____________________________+
44200 yen

Dan dia bilang kalau uang fasilitas dibayar di hari terakhir jadi seandainya uang deposit balik full berarti uang deposit dikurangi uang fasilitas.
10000 Yen (deposit) - 4200 Yen (fasilitas) = 5800 Yen
Malah uang aku akan balik di hari terakhir, yang berarti total penginapan hanya 34200 Yen. Aku, Hanin, Diza langsung lega. Oh iya, yang tinggal di Share House Tama Aku, Hanin, Diza. Yang 1 lagi ikut naik kereta Fani, tinggal bareng senior. Sedangkan 1 lagi mahasiswa yang 3 minggu tinggal di DK House Warabi Mimi, dia ga gratis tapi bayar 100000 Yen atau sekitar 10juta Rupiah. Kasian, kosan aku aja 1 tahun ga nyampe 10 juta :|

Setelah tau biaya asli total penginapan, kita semua sumringah. Ah anak sastra, matematikanya bego banget..

2 comments:

  1. gue baru tau kalo buka sepatu di pesawat bisa menciut gitu kis :|

    ReplyDelete
  2. Gw juga baru tau, dan yang ngalamin bukan gw doang. Temen gw lepas sepatu dua2nya selama di pesawat dan pas turun ga muat :|. Silahkan lo coba pas mau ke indonesia lagi.

    ReplyDelete